Sudah hampir 1 minggu aku bolak-balik kekosannya, meminjam laptop untuk memperbaiki proposalku yang selalu saja ada salah dan harus diperbaiki setiap kali aku bertemu dan berkonsultasi dengan pembimbingku. Terkadang aku datang dengan membawa cemilan, roti bakar coklat kesukaannya karena tidak mungkin aku datang dengan tangan kosong sedangkan aku menumpang dan
mengganggu ditempatnya.
“Ini jenggotku dah muncul-muncul lagi” ocehnya sambil melihat kearah kaca.
“Ya, kalau sudah panjang dicukur” sambungku sambil tetap focus mengetik.
“Enggak enak dicukur entar tumbuhnya kasar” jawabnya.
“Kalau enggak mau dicukur ya dicabutin aja” jawabku santai sambil terus focus mengetik perbaikan proposalku.
“Cabutin ya” celotehnya santai sambil tetap memperhatikan jenggotnya dicermin.
Tanganku berhenti mengetik dan menoleh kebelakang melihatnya.
“Kenapa? Dulukan kamu sering bersihin jenggotku, malah ketiakku juga” dia memalingkan wajahnya kearahku sambil tertawa.
“Haduhhhh…. Itukan dulu, lagiankan kamu yang minta bukan aku yang mau menyodorkan diri memberikan bantuan jasa pencabutan bulu” jawabku panjang lebar yang hanya ditanggapinya dengan tawa kecil.
“Iya tapikan kamu suka hahahahah…. Mau ya, nih aku beli pinsetnya loh”
“Iya-iya, sana beli jangan lama-lama loh” jawabku dengan jari-jari yang masih terus menari di atas keyboard laptop.
Mijon bergegas pergi keluar ke minimarket yang ada di dekat kos-kosannya lalu kembali ke kos dalam kurun waktu kurang dari 15 menit.
“Murah banget nih, hanya dua ribuan” celotehnya sambil membuka pintu, masuk kedalam kamar kos lalu kembali menutup pintunya.
“Kamu beli dimana? Cepat banget?” aku berhenti mengetik lalu merubah posisi dudukku menghadap ke Mijon agar bisa berbicara dengan santai.
Mijon menghadap ke cermin sambil memperhatikan kembali jenggotnya yang mulai tumbuh kecil-kecil di sekitar dagunya “itu yang didepan sana, kasar ya tumbuhnya ini karena kemarin-kemarin aku cukur”
“Sini tak bersihin” aku mengulurkan tanganku, meminta pinset yang barusan tadi dibelinya.
Mijon memberikan pinset tersebut lalu mengambil posisi duduk setengah menyender di kasurnya yang diberi bantal di bagian belakang punggungnya.
Aku duduk di sebelahnya, menaruh tisu di bawah dagunya supaya nanti jenggotnya yang sudah di cabut bisa ditaruh diatas tisu jadinya tidak bertebaran dimana-mana.
“Kamu ingat enggak pertama kali kita ketemu?” tanyanya sambil melihat kearah langit-langit kamar.
“Kenapa?” tanyaku singkat sambil fokus dengan mencabuti janggutnya saat ini.
“Gimana ya ceritanya kok kita bisa kenal? Tanyanya kembali.
“Kan kita chating di sosmed terus kamu ngajak ketemu toh” jawabku singkat sambil menghela nafas
“ Terus kita ketemunya dimana?” tanyanya untuk kesekian kali.
“Didepan kampusku, terus kamu ngajak makan bareng abis itu ketemu temanku yang wajahnya mirip kamu” aku diam sebentar lalu enggak sengaja helaian jenggotnya yang sedangku tarik dengan pinset tersebut putus spontan aku mengusap dan menekan dagunya maksudnya supaya bisa mengurangi rasa sakit akibat ulahku tersebut. “aduh… sorry-sorry….”
“Sakit enggak???” tanyaku panik sambil tetap mengusap dan menekan dagunya.
“Enggak kok” mijon duduk tegap merubah posisinya yang tadi menyender di dekat kasurnya. Dia memandangiku tanpa bicara sedikitpun.
Ini anak kenapa pikirku dalam hati, apa aku punya hutang ya??? Kok ngeliatnya begitu banget.Enggak beberapa lama setelah itu diapun merai pipiku dengan kedua tangannya lalu mengecup lembut di keningku. Aku mendadak syok seakan terkena serangan jantung, kenapa?? Tanyaku dalam hati
“Kamu kenapa” tanyanya
“Enggak kenapa-kenapa” jawabku sambil menggelengkan kepala.
No comments:
Post a Comment